Harta karun kerajaan Majapahit yang ditemukan penduduk sekitar Trowulan
Mojokerto dan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi nasional,
tidak ternilai harganya.
Ini menyusul ditemukan batas-batas kota Majapahit yang luasnya 99
kilometer persegi (9×11 km atau 99.000 hektar) yang terdiri dari 3
kecamatan di Trowulan Mojokerto dan sebagian berada di 3 kecamatan
kabupaten Jombang.
Hal ini diungkapkan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3)
Jatim, Drs Aris Soviyani SH, M.Hum, ketika mengadakan peninjauan
situs-situs Majapahit di kabupaten Tuban. Peta Trowulan tadi menurut
arkeolog ini ditemukan di museum Royal British tahun 2008 yang lalu dan
kini dikembangkan untuk penelitian.
“Kami juga sedang membuat draft ‘Pelestarian Cagar Budaya Majapahit dan
Pengembangan Taman Majapahit’. Nantinya proyek ini ditangani bersama
Gubernur Jatim, Bupati Mojokerto dan Jombang,” ujar Aris.
Majapahit adalah kerajaan besar dan sangat berpengaruh di nusantara
(Indonesia) dan didirikan oleh Raden Wijaya (bergelar Kertarajasa Jaya Wardhana) pada tanggal 10 Oktober 1293.
“Kalau Indonesia merayakan sumpah Pemuda 10 Oktober 2010 lalu, kami di
Mojokerto memperingati berdirinya kerajaan Majapahit yang ke 717,” kata
Aris yang bekerja di BP3 Jatim selama 26 tahun terakhir.
Harta karun yang ditemukan di seputar Trowulan berupa uang keeping emas,
peralatan rumah tangga kerajaan, patung-patung dan candi-candi sungguh
luar biasa dan tidak terhingga nilainya.
“Kalau kita ke Meseum Gajah di Jakarta, di Muteran Treasure Majapahit di
lantai 4, bisa disaksikan betapa harta karun berupa emas berbentuk uang
koin dan mahkota kerajaan yang juga terbuat dari emas dan mutu
manikam,” ungkap Aris yang baru-baru ini juga menemukan harta karun emas
yang disimpan di tempat aman dan tidak dipamerkan.
Menurut rencana, BP3 Jatim akan mengusulkan membuat replika-replika
mahkota raja yang sesuai bentuk aslinya dan disepuh dengan emas murni
sehingga menyerupai bentuk aslinya. Demikian uang logam mulia serta
benda-benda bersejarah seperti perhiasan raja dan permaisurinya yang
terbuat dari permata dan emas berlian, diusulkan dibuat replikanya yang
bisa dipamerkan di Museum Trowulan.
Mengapa kerajaan Majapahit seperti musnah ditelan bumi, Aris menunjuk
sejarah meletusnya Gunung Welirang dan gunung Arjuno pada tahun 1490
(abad 15). Kerajaan Majapahit seluas hampir 100 kilometer persegi ini
tenggelam oleh lahar dan hujan debu gunung Merapi dan Arjuno.
“Pendopo, pondasi istana raja, keputren, kolam istana dan lainnya
terpendam sekitar 4 meter dari permukaan tanah dan baru ditemukan oleh
penduduk petani atau penggali sumur dan lainnya,” kata Aris.
Penemuan-penemuan tadi kemudian dilanjutkan oleh tim arkeologi nasional
dibantu oleh BP3 Jatim.
Pusat kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya (bergelar
Kertarajasa Jayawardana) pada tahun 1293 masehi itu kemudian dilanjutkan
Jayanegara (1309-1328), Raja Tribuana Wijaya Tunggadewi (1328-1359) dan
Raja Rajasanagara (1350 -1389) dikenal dengan Raja Hayam Wuruk dengan
patihnya yang terkenal Gajahmada yang berhasil mempersatukan nusantara.
“Dan perlu diingat bahwa kota Tuban adalah kota strategis Majapahit
karena dari pelabuhan Tuban inilah Majapahit mempersatukan Indonesia
dengan kapal layarnya yang luar biasa kuatnya,” lanjut Aris yang melihat
saat ini Tuban berkembang jadi pelabuhan industri.
Tuban juga punya sejarah masuknya tentara Tartar Cina ketika menyerang
kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Dan dari Tuban, batu-batu padas (dari
Gua Suci Palang) diambil untuk membangun istana.
Tuban juga penting sekali bagi perdagangan Majapahit dengan
negara-negara tetangga seperti China, India dan Arab Saudi. Tuban bahkan
dalam catatan sejarah, oleh orang China disebut dengan Tse’Sun.
Menurut Aris, keliru pendapat yang menyatakan bahwa Majapahit adalah
kerajaan besar namun sederhana keratonnya. Memang, Trowulan yang
merupakan ibukota Majapahit sebelum ditemukan peta dan ditemukan
situs-situs serta harta karunnya, kesan kerajaan Majapahit tidak ada
apa-apanya. Namun kini setelah diteliti kerajaan Majapahit memang maha
karya yang besar.
Keraton Majapahit bentuknya saat ini miniaturnya bisa dilihat di keraton
raja-raja Bali seperti keraton di Puri Agung Klungkung, Singaraja,
Karangasem, Denpasar dan Tabanan.
“Para bangsawan Majapahit yang beragama Hindu dalam sejarah ketika
dikalahkan oleh kerajaan lain, larinya ke Bali. Sementara rakyat awam
(sudra) lari ke Gunung Bromo Jatim yang masih menganut agama Hindu
sampai sekarang,” lanjut Aris yang juga lulusan Arkeologi Universitas
Gajahmada Jogya ini.
Menurut Aris, ketika ia mengadakan sarasehan tentang sejarah Majapahit
di Trowulan, dia mendatangkan para bangsawan dari keraton Singaraja yang
kabarnya adalah cicit/canggah Gajahmada. Ketika itu ia sempat
terperangah. “Para Ksatria yang datang, Masya Allah, mereka
tinggi-tinggi besar, gagah perkasa. Dan wajahnya mirip Gajahmada,”
cerita Aris yang ketika itu ia langsung terbayang patung dan keperkasaan
Patih Gajahmada.
Majapahit sebagai kerajaan besar ketika itu juga punya hubungan dagang
yang erat dengan China. Bahkan tercatat ada duta besar China ditempatkan
di Trowulan bernama Buan Eng Chui. Kehidupan beragama di Majapahit
nampaknya juga sangat harmonis. Hindu, Budha dan Islam bisa hidup
berdampingan.
Peninggalannya yang ditemukan adalah makam tokoh Islam (pedagang dan
pendakwah Islam). Di selatan keraton Trowulan, ditemukan makam Troloyo
Jumadil Kubro. Makam ini adalah kuburan penyebar agama Islam.
Diperkirakan dari Trowulan Mojokerto inilah Islam dikembangkan dan konon
tokoh-tokoh yang dimakamkan di sini adalah nenek moyangnya para Wali di
Jawa.
*source :pintar-rendi

0 komentar:
Posting Komentar